Banner

Ibu Menyusui Indonesia makin sadar

Semakin gencarnya promosi menyusui yang dilakukan di Indonesia, diiringi mulai menjamurnya organisasi atau perkumpulan yang memiliki kesamaan minat untuk mendalami, mempromosikan dan berbagi tentang menyusui ternyata tidak serta merta meningkatkan cakupan informasi menyusui pada masyarakat.

Jika menilik dua data resmi pemerintah Indonesia yaitu SDKI atau Survey Kesehatan Demografi Kesehatan Indonesia dan Riset Kesehatan Dasar atau RISKESDAS, maka persentasi pemberian asi dan menyusui masih rendah.

SDKI 2012 menunjukan bahwa bayi 0-6 bulan diberikan ASI eksklusif hanya 27,1% sedangkan Riskesdas 2013 mencatat angka yang tidak terlalu jauh berbeda, menggunakan metoda recall 24 jam pemberian ASI saja dan tanpa riwayat diberikan makanan prelaktal pada umur 6 bulan sebesar 30,2 persen. Praktek Inisiasi menyusu dini kurang dari satu jam setelah bayi lahir adalah 34,5 persen. Masih jauh dari target nasional 80% ASI Eksklusif untuk mencapai MDGs 2015.

Membahas fenomena sosial dan kultur selalu akan rumit dan tidak pernah habis dibahas bahkan selalu menarik untuk dikaji, apalagi tentang ibu menyusui yang menurut sebagian orang “sudah tradisi”. Banyak faktor yang mempengaruhi perubahan prilaku, dan banyak juga teori yang diklaim mampu menyelesaikan masalah itu. Tapi faktanya faktor pengetahuan, informasi, sosio kultural, psikis, minat, dan parameter lain merupakan berbagai faktor yang tidak bisa dirubah begitu saja dalam 10 tahun sekalipun.

Keluar dari hal itu semua, saya mencoba menggunakan tools gratis, sederhana dan yang terpenting tools itu gratis. Saya ingin mengetahui sebenarnya apakah orang lebih banyak mencari informasi menyusui atau susu formula, terlepas dari siapa yang mencarinya, jenis kelaminya apa, dan apakah dia ibu menyusui atau bukan.

Google trend melalui alamatnya: www.google.com/trends/ merupakan grafik statistik pencarian Web yang menampilkan popularitas topik pencarian pada kurun waktu tertentu, saya ingin mengetahui topik mana yang lebih populer antara keyword “menyusui”  dan “susu formula”. Hasilnya sangat luar biasa. Bahwa trend pencarian informasi menyusui jauh lebih besar dari topik pencarian susu formula.

google-trend-menyusui

Ini merupakan buah dari gencarnya media sosial mempromosikan menyusui, baik melalui twitter, facebook dan lain sebagainya, baik itu dilakukan secara pribadi, organisasi, atau organisasi “bayangan”. Sungguh hal yang menggembirakan artinya kalangan masyarakat yang memiliki akses pada internet sudah sangat faham bahwa menyusui itu penting dan investasi besar untuk kehidupan.
Pertanyaanya adalah, apakah kultur media sosial online dapat diturunkan menjadi media sosial yang lebih membumi? Lalu apakah pengetahuan menyusui serta merta meningkatkan kesadaran akan pentingnya menyusui?

Penulis: Wasugi | @tipsmenyusui volunteer | AyahASI_Jogja | Konselor Menyusui

Populer

Follow Us on Twitter