Banner

Inisiasi Menyusu Dini tidak Membunuh

Wasugi Wawan Sugianto

Pada Juni 2006, saya pertama kali mengenal tentang ilmu menyusui bahkan selama proses kuliah 4 tahun saya tidak pernah mendengar kata laktasi. Pelatihan Konseling Menyusui bersama SELASI waktu itu mengenalkan pada saya satu proses hidup yang dilupakan, satu rantai alami kehidupan yang tidak kita sadari telah dibuang, diabaikan dan seperti telah didisain untuk diminimalisir. Ketakjuban saya pada proses menyusui membuat saya termotivasi untuk belajar, bahkan waktu itu saya tidak segan untuk menghafal anatomi payudara dan ditertawai kawan.Agustus 2006, saya mulai menambah pengalaman dengan diberi kesempatan untuk berbagi bersama dengan relawan laktasi lain di Klaten paska gempa JATENG dan Yogyakarta. Pengalaman berbagi dan terjun langsung bersama ibu-ibu pada situasi darurat mengantarkan saya pada ketakjuban demi ketakjuban akan proses hidup. Sebagai relawan kita pasti diminta mendokumentasikan semua kegiatn kita, dan itu lumrah makanya, selain mendokumentasikan proses edukasi, kami juga mendokumentasikan 1 proses penting dalam proses menyusui yaitu Inisiasi Menyusu Dini, video ini adalah video documenter pertama kali yang saya lihat dimana orang yang melakukannya adalah orang Indonesia asli yang berada di kampung nun jauh disana, ini adalah bukti bahwa teori yang selama ini kami dapat benar adanya.

Sekitar Februari 2007, saya dan beberapa relawan lain dikirim kembali, kali ini saya bertugas di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Kesempatan kedua berbagi menjadi sangat special, karena kami diberi kesempatan langka yaitu melihat secara langsung proses IMD, sungguh membuat jantung saya berdebar kencang, sulit mendapat kesempatan seperti ini, apalagi latar belakang saya bukan tenaga kesehatan dan saya juga seorang laki-laki jadi sangat wajar kalau ini saya anggap kesempatan emas.

Tetapi menonton IMD selama 1 jam penuh sangat menjenuhkan, tontonan monoton yang hanya melihat bayi diam dan tidak bergerak, sesekali menangis dan mangap-mangap. sehingga wajar ketika sebagian tenaga kesehatan yang notabene sibuk menjadi tidak sempat menunggui ibu secara penuh. saya analogikan seperti sedang menonton bola, yang saya ingin lihat hanya goal, kadang saya lupa bahwa justru proses terjadinya goal itulah yang penting. Bagaimana usaha bayi mencapai puting, bagaimana kesabaran ibu memeluk dan membelai untuk memberi kehangatan pada bayi ketika itulah proses penting dua insan, dan bagi saya itu sangat indah.

Selain kejenuhan yang saya rasakan, saya juga melihat keringat ibu membasahi wajah dan badannya, saya bisa merasakan betapa besar usahanya. Saya juga memperhatikan bayinya yang kadang mau jatuh, lalu kami geser kembali ke tengah, sungguh proses yang sarat akan “perjuangan”, mungkin tidak semua semua ibu dan tenaga kesehatan yang akan bersedia melakukannya, hanya dapat dilakukan oleh yang memiliki  motivasi kuat akan manfaatnya.

Kita semua tahu manfaat Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Untuk bayi: IMD mengurangi risiko hipotermia, hipoglikemia, memberikan kesempatan bayi untuk segera meneguk kolostrum (ASI terbaik sepanjang hidupnya), meningkatkan kekebatalan tubuhnya dan lebih menjamin keberhasilan  menyusui. Sedang untuk ibu: IMD membantu mempercepat berhentinya perdarahan pasca persalinan, mengurangi rasa sakit dalam persalinan, menurunkan tekanan darah tinggi yang terjadi dalam kehamilan/persalinan dan mengurangi risiko terjadinya baby blues/depresi pasca melahirkan.

Tetapi ini bukan proses individual, menurut saya IMD adalah proses kolektif antara ibu, bayi, ayah, tenaga kesehatan, dan keluarga, sungguh inilah keindahannya. proses kolektif yang merupakan prototype dari keluarga sakinah berdasarkan suara musyawarah mufakat, bukan proses ibu dan bayi saja tanpa ayah, keluarga dan dukungan nakes begitu juga sebaliknya. Sehingga edukasi dan pemberian informasi yang tepat sangat dibutuhkan. begitu juga tenaga kesehatan dan tempat pelayanan persalinan, mereka juga harus menerapkan standar operasional yang ketat, dan terinformasi dengan baik sehingga tidak menjadikan IMD sebagai kewajiban saja, sehingga menjadikan IMD menjadi “asal sudah dilakukan” tanpa adanya monitoring dan kesiapan SDM.

Mengutif buku WHO/UNICEF untuk pelatihan Konseling Menyusui edisi revisi 2011 tertulis “Jangan tinggalkan ibu dan bayinya berdua saja pada satu jam pertama setelah persalinan. Anjurkan ibu untuk didampingi ketika melahirkan, dan pendamping ini dapat bersama ibu setidaknya sampai proses menyusu pertama selesai. Pendamping ini juga dapat membantu ibu dan bayi menemukan posisi yang nyaman. Tenaga kesehatan sebaiknya memantau keadaan ibu dan bayi, tapi tidak perlu selalu berada di situ setiap waktu.”

Ini menunjukan proses kolektif antara keluaga dan tempat bersalin, saling membantu dan mengingatkan. Sehingga minimnya SDM untuk proses IMD menjadi tidak berlaku, karena SDM sebenarnya adalah keberadaan ayah atau keluarga di samping ibu dan bayi.

Desember 2012, saya terhenyak ketika membaca Twitter dan Metrotvnews bahkan nyaris saya tidak percaya. Judulnya pun membuat merinding “Bayi Tewas saat Diberikan Inisiasi ASI”, sungguh menyakitkan, dan pikiran saya dipenuhi rasa haru, keharuan yang saya juga tidak mengerti kenapa begitu sangat haru, saya hanya bisa berdoa semoga sang bayi menjadi penolong untuk ibu dan bapaknya kelak di akhirat.

Proses yang indah dan merupakan prototype keluarga samara seperti buyar, dan berbalik menjadi proses yang menakutkan dan momok, bahkan menjadikan IMD sebagai kambing hitam, yang berdampak pada ketakutan ibu dan keluarga untuk melakukan proses ini.

IMD adalah proses seperti makan dan minum, IMD adalah tahapan atau proses seperti bayi belajar berjalan. Saya tidak melihat kesalahan ada pada proses, tetapi kesalahan ada pada pelaku proses. Makan minum dapat membunuh ketika kita tidak makan minum yang baik, begitu juga proses bayi belajar berjalan, akan menjadi petakan ketika tidak di dampingi, tetapi apakah itu artinya kita harus berhenti makan, atau melarang bayi belajar berjalan?

Inisasi menyusu dini bukan pembunuh …

Yogyakarta, 19 Desember 2012.

Populer

Follow Us on Twitter